Minggu, 15 Oktober 2017

PELEDAKAN

1.1.  Latar Belakang

Bidang ilmu yang mempelajari tentang peledakan dan permasalahannya dalam teknik pertambangan dikenal dengan teknik peledakan. Peledakan merupakan salah satu metode pembongkaran batuan atau bahan galian, terutama untuk material yang memiliki kekerasan relatif keras. Kegiatan peledakan yang digunakan pada dunia pertambangan dikatakan berhasil apabila target produksi terpenuhi, aman, penggunaan bahan peledak secara efisien, diperoleh dinding batuan yang rata tidak ada over brake, over hang, toe, stump, dan juga dampak minimum terhadap lingkungan (fly rock, getaran, kebisingan, gas beracun, debu). Penentuan geometri, pola dan juga rangkaian peledakan yang sesuai merupakan beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencapai suatu keberhasilan di atas.

Kegiatan peledakan memerlukan bahan peledak sehingga mampu menghasilkan suatu reaksi tertentu. Bahan peledak yang dimaksud adalah bahan peledak kimia, yaitu suatu campuran yang sengaja dibuat agar dapat meledak untuk tujuan tertentu, terdiri dari bahan-bahan berbentuk padat dan cair atau campuran keduanya, yang apabila terkena suatu aksi seperti panas, benturan, gesekan, atau ledakan awal akan bereaksi dengan kecepatan tinggi membentuk gas yang menimbulkan efek panas dan tekanan yang sangat tinggi.


Mempelajari mengenai teknik peledakan tidak hanya dapat dilakukan melalui teori yang terdapat pada saat kuliah saja, melainkan juga harus dikenal lebih mendalam melalui praktikum. Oleh karena itu, untuk mendapatkan suatu hasil yang optimal dalam mempelajari teknik peledakan diperlukan suatu kegiatan praktikum agar semua ilmu yang didapatkan diperkuliahan dapat diaplikasikan secara nyata walaupun hanya dalam skala praktikum.
1.2.  Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan praktikum ini adalah mempraktekkan seluruh materi pembelajaran Teknik Peledakan yang dipelajari di kampus untuk diterapkan di lapangan tepatnya di PT. Pertama Mina Sutra Perkasa. Dengan memperhatikan peraturan-peraturan dari KEPMEN 555K dan peraturan dari perusahaan untuk Keselamatan dan Kesehatan, Efisiensi, dan produktivitas kerja dalam pemboran dan peledakan.
1.3.  Manfaat
Manfaat yang kami dapat pada saat pelaksanaan praktikum Teknik Peledakan di PT. Pertama Mina Sutra Perkasa yaitu:
1.      Cara melakukan drilling (pemboran) untuk lubang ledak
2.      Cara mendesain lubang lubang ledak
3.      Merakit bahan peledak primer (Detonator  dan Power Gel)
4.      Pengisian lubang ledak dengan ANFO dan merangkai lubang ledak dengan Detonator dan rangkaian primer
5.      Pengamanan lokasi peledakan
6.      Penyalaan peledakan




1.4.  Pelaksanaan
1.4.1.      Waktu Pelaksanaan
No.
Hari dan Tanggal
Pelaksanaan
1
Jum’at, 15 Januari 2016
Pelaksanaan praktek pengeboran dan peledakan
2
Sabtu, 16 Januari 2016
Pelaksanaan praktikum tambahan pengolahan bahan galian dan pengukuran strike dan dip.

1.4.2.      Lokasi

Pelaksanaan praktikum peledakan dilaksanakan di PT. Pertama Mina Sutra Perkasa, tepatnya Desa Grenden, Kecamatan Puger, Kabupaten jember, Provinsi Jawa timur.
1.5 Peralatan
Dalam kegiatan Teknik Peledakan yang dilakukan di PT. PERTAMA MINA SUTRA PERKASA ada beberapa peralatan yang digunakan, Antara lain :
Ø  Jack Hammer : merk atlas copo ;type RU571
Ø  4 Stick Bor
-. Panjang 80 cm
-. Panjang 160cm
-. Panjang 220cm
-. Panjang 320 cm
Ø  BLG dan Selang Kompressor
Ø  Detonator
Ø  Power Gel
Ø  ANFO
Ø  Stick Bambu
Ø  Kabel Listrik
Ø  Blasting Machine
Ø  Rheostat

DASAR TEORI

2.1. Pengetahuan Umum Peledakan
Peledakan adalah kegiatan pemecahan suatu material (batuan) dengan menggunakan bahan peledak atau proses terjadinya ledakan. Suatu operasi peledakan batuan akan mencapai hasil optimal apabila perlengkapan dan peralatan yang dipakai sesuai dengan metode peledakan yang diterapkan. Dalam membicarakan perlengkapan dan peralatan peledakan perlu hendaknya terlebih dahulu dibedakan pengertian antara kedua hal tersebut. Peralatan peledakan (blasting eqipment) adalah alat-alat yang dapat digunakan berulang kali, misalnya blasting machine, crimper, dan sebagainya. Sedangkan perlengkapan peledakan hanya diperlukan dalam satu kali proses peledakan atau tidak bisa digunakan berulang kali. Untuk setiap metode peledakan, perlengkapan dan peralatan yang diperlukan berbeda-beda. Oleh karena itu agar tidak terjadi kerancuan dalam pengertian, maka dibuat sistematika berdasarkan tiap-tiap metode peledakan dalam arti bahwa perlengkapan dan peralatan akan dikelompokkan berdasarkan metodenya.

Pekerjaan peledakan adalah pekerjaan yang penuh bahaya. Oleh karena itu, harus dilakukan penuh perhitungan dan hati-hati, agar tidak terjadi kegagalan atau bahkan kecelakaan. Untuk itu operator yang melakukan pekerjaan peledakan harus mengerti benar tentang cara kerja, sifat dan fungsi dari peralatan yang digunakan. Karena persiapan peledakan yang kurang baik akan menghasilkan atau bisa menyebabkan hasil yang tidak sempurna serta mengandung resiko bahaya terhadap keselamatan pekerja maupun peralatan. Dalam hal ini pemilihan metode peledakan, pemilihan serta penggunaan peralatan dan perlengkapan juga berpengaruh terhadap hasil yang dicapai.
Bahan peledak adalah bahan peledak kimia yang didefinisikan sebagai suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, atau campurannya yang apabila   diberi   aksi   panas,benturan,   gesekan   atau   ledakan   awal   akan   mengalami   suatu   reaksikimiaeksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebihstabil.Panas dari gas yang dihasilkan reaksi peledakan tersebut sekitar 4000°C. Adapun tekanannya, menurut Langerfors   dan   Kihlstrom (1978) bisa   mencapailebih dari 100.000   atm   setara dengan101.500 kg/cm² atau 9.850 MPa (» 10.000MPa). Sedangkan energi per satuan waktu yang ditimbulkansekitar   25.000   MWatau 5.950.000   kcal/s.   Perlu   difahami   bahwa   energi   yang   sedemikian   besar itu bukan merefleksikan jumlah energi yang memang tersimpan di dalam bahan peledak begitu besar, namun kondisi ini terjadi akibat reaksi peledakan yangsangat cepat, yaitu berkisar antara 2500 - 7500meter per second (m/s). Olehsebab itu kekuatan energi tersebut hanya terjadi beberapa detik saja yanglambatlaun berkurang seiring dengan perkembangan keruntuhan batuan.

2.2. Reaksi dan produk peledakan
Peledakan akan memberikan hasil yang berbeda dari yang diharapkan karena tergantung pada kondisi   eksternal   saat   pekerjaan   tersebut   dilakukan   yang mempengaruhi   kualitas   bahan   kimiapembentuk bahan peledak tersebut. Panas merupakan awal terjadinya proses dekomposisi bahankimia pembentuk bahan peledak yang menimbulkan pembakaran, dilanjutkan dengan deflragrasi dan terakhir detonasi.  Proses   dekomposisi bahan peledak diuraikan sebagai berikut:  Pembakaran adalah reaksi permukaan yang eksotermis dan dijaga keberlangsungannya oleh panas yang dihasilkandari reaksi itu sendiri danproduknya berupa pelepasan gas-gas. Reaksi pembakaran memerlukan unsuroksigen (O2) baik yang terdapat di alam bebas maupun dari ikatan molekuler bahan atau material yang terbakar. Untuk menghentikan kebakaran cukupdengan mengisolasi material yang terbakar darioksigen.Deflagrasi   adalah   proses   kimia   eksotermis   di   mana   transmisi   dari   reaksidekomposisididasarkan pada konduktivitas termal (panas). Deflagrasimerupakan fenomena reaksi permukaan yangreaksinya   meningkat   menjadiledakan   dan   menimbulkan   gelombang   kejut   shock   wave)   dengan kecepatan rambat rendah, yaitu antara 300 – 1000 m/s atau lebih rendah dari kecep suara(subsonic).Ledakan, menurut Berthelot, adalah ekspansi seketika yang cepat darigas menjadi bervolumelebih besar dari sebelumnya diiringi suara keras dan efekmekanis yang merusak. Dari definisi tersebutdapat tersirat bahwa ledakan tidak melibatkan reaksi kimia, tapi kemunculannya disebabkan olehtransfer energi kegerakan massa yang menimbulkan efek mekanis merusak disertai panas dan bunyi yang keras. Contoh ledakan antara lain balon karet ditiup terus akhirnya meledak, tangki BBM terkenapanas   terus   menerus   bisa   meledak,   dan   lain-lain.d)   Detonasi   adalah   proses   kimia-fisika   yangmempunyai kecepatan reaksi sangat tinggi, sehingga menghasilkan gas dan temperature sangat besaryang semuanya membangun ekspansi gaya yang sangat besar pula.

2.3 Klasifikasi Bahan Peledak
Bahan   peledak   diklasifikasikan   berdasarkan   sumber   energinya   menjadi   bahanpeledakmekanik, kimia dan nuklir. Karena pemakaian bahan peledak darisumber kimia lebih luas dibandingdari sumber energi lainnya, maka pengklasifikasian bahan peledak kimia lebih intensif diperkenalkan.Pertimbangan pemakaiannya antara lain, harga relatif murah, penanganan teknis lebih mudah, lebihbanyak variasi waktu tunda (delay time) dan dibanding nuklir tingkat bahayanya lebih rendah. Bahanpeledak   permissibledalam   klasifikasi   di   atas   perlu   dikoreksi   karena   tidak   semua   merupakanbahanpeledak lemah. Bahan peledak permissible digunakan khusus untuk memberaikan batubaraditambang batubara bawah tanah dan jenisnya adalah blasting agent yang tergolong bahan peledakkuatSampai saat ini terdapat berbagai cara pengklasifikasian bahan peledak  kimia, namun  padaumumnya kecepatan reaksi merupakan dasar pengklasifikasian tersebut.Menurut R.L. Ash (1962),bahan peledak kimia dibagimenjadi. Bahan peledak kuat (high explosive) Bila memiliki sifat detonasiataumeledak dengan kecepatan reaksi antara 5.000 – 24.000 fps (1.650 – 8.000 m/s)Bahan peledaklemah (low explosive) Bila memiliki sifat deflagrasi atau terbakar kecepatan reaksi kurang dari 5.000fps (1.650 m/s).

2.4. Sifat Bahan Peledak
Sifat bahan peledak mempengaruhi hasil peledakan, diantaranya yaitu Kekuatan (Strength) Kekuatan suatu bahan peledak berkaitan dengan kandungan energi yang dimiliki oleh bahan peledak tersebut   dan   merupakan ukuran   kemampuan   bahan   peledak   tersebut   untuk   melakukan   kerja, biasanya dinyatakan dalam %.
2.5. Kecepatan Detonasi
Kecepatan   Detonasi   (velocity   of   detonation   =   VOD)   merupakankecepatan   gelombangdetonasi   yang   menerobos   sepanjang   kolom   isian   bahanpeledak,   dinyatakan   dalam   meter/detik.kecapatannya tergantung dari: jenisbahan peledak (ukuran butir, bobot isi), diameter dodol (diameter lubang ledak)
2.6. Kepekaan (Sensivity)
Kepekaan (Sensivity) adalah ukuran besarnya impuls yang diperlukanoleh bahan peledakuntuk mulai bereaksi dan menyebarkan reaksi peledakankeseluruh isian. Kepekaan ini tergantungpada : komposisi kimia, ukuran butir,bobot isi, pengaruh kandungan air, dan temperatur.Bobot IsiBahan Peledak(density)  adalah perbandingan  antara berat  dan  volume bahan  peledak,dinyatakan dalam gr/cm3. Bobot isi ini biasanya dinyatakan dalam specific gravity (SG). stick count (SC) atau loading density (de)Tekanan Detonasi (DetonationPressure) Tekanan Detonasi (Detonation Pressure)merupakan penyebarantekanan gelombang ledakan dalam kolom isian bahan peledak, dinyatakan


HASIL PENGAMATAN

Dari hasil pengamatan yang kita peroleh dari praktikum peledakan yang telah kita lakukan di PT. PERTAMA MINA SUTRA PERKASA di Desa Grenden Kecamatan Puger Kabupaten Jember kita dapat mengetahui tatacara menentukan pembuatan lubang bor untuk tempat handak di letakkan dan cara merakit handak mulai dari pemasangan detonator ke power gel yang bertujuan sebagai pemicu peledakan dan cara pengisian anfo kedalam lubang bor.dan dari hasil pengamatan yang di peroleh, adapun data- data yang di dapatkan yaitu sebagaimana berikut:
Data di lapangan:
Ø  batuan gamping yang memiliki kekerasan 6-7 skala mohs
Ø  burden 1,5 meter dan spasi 2,5 meter
Ø  kedalaman lubang bor 3,2 meter
Ø  diameter 33 mm
Ø  jumlah lubang 45 dibagi 6 baris
Ø  tinggi jenjang 4 meter dengan kedalaman 2 meter
Ø  1 lubang 4 kali ganti stick drill
Ø  Produktifitas 1 lubang 16 ton
Ø  Waktu drilling untuk 1 lubang 40 menit kedalaman 3,2 meter
Dalam satu lubang berisi
Ø  aluminium nitrat (ANFO) 1,2 kg
Ø  satu detonator
Ø  satu power gel  berat 2 ons (dipotong menjadi 4 bagian)


PEMBAHASAN

4.1. Pola Pemboran
Keberhasilan suatu peledakan salah satunya terletak pada ketersediaan bidang bebas yang mencukupi. Pola pemboran merupakan suatu pola pada kegiatan pemboran dengan mendapatkan lobang-lobang tembak secara sistematis. Pola pemboran yang bisa diterapkan pada tambang terbuka bisaanya ada tiga macam pola pemboran yaitu:
a) Pola Bujur Sangkar (square pattern) Pola pemboran ini adalah dimana jarak antara burden dan spasi nya sama panjang yang membentuk bujursangkar.
b) Pola Persegi Panjang (rectangular pattern) Pola pemboran persegi panjag dimana ukuran spacing dalam satu baris lebih besar dari jarak burden yang membentuk pola persegi panjang. Untuk mendapatkan fragmentasi yang baik, pola ini kurang tepat karena daerah yang tidak terkena pengaruh peledakan cukup besar.
c) Pola selang-seling (staggered pattern) Dalam pemboran selang seling lobang tembak dibuat seprti zig zag sehingga membentuk pola segi tiga atau melingkar. Dimana jarak spacing besar sama atau lebih besar dari pada jarak burden. Pada pola ini daerah yang tidak terkena pengaruh peledakan cukup kecil dibandingkan dengan pola yang lainya. Namun pada penerapan dilapangan pola ini cukup sulit melakukan pemboran dan pengaturan lebih lanjut. Tetapi untuk menperbaiki fragmentasi batuan hasil peledakan maka pola ini lebih cocok untuk digunakan.
Pada penambangan Terbuka kebanyakan batuan yang keras membutuhkan peledakan sebelum penggalian di tambang permukaan. Biasanya empat jenis bahan peledak umum digunakan di pertambangan permukaan: slurries, Mixes dry, emulsi dan ANFO hybrid heavy. Pemilihan bahan peledak tergantung pada banyak faktor, terutama meliputi: critical diameter, hydrostatic pressure, temperature, minimum primer weight, density weight strength, bulk strength, gap sensitivity, water resistance, loading procedures, coupling atau decoupled properties, shelf life, reliability for bulk operations, overall drilling, pengeboran secara keseluruhan dan ekonomi peledakan.
Geometri Peledakan
Geometri peledakan merupakan kemponen-komponen dalam peran lapangan untuk melakukan peledakan, sehingga proses peledakan berjalan lancar. Untuk mendapatkan hasil peledakan yang baik diperlukan suatu perencanaan terhadap besaran geometri.
Adapun unsur-unsur geometri peledakan, yaitu:
B (Burden) yaitu jarak lubang ledak kebidangan bebas dan jarak tegak lurus dari lubang isian bahan peledak dengan bidang bebas.
S (Spacing) yaitu jarak antara penutup lubang bor yang dirangkai dalam baris.
T (Stemming) yaitu tanah penutup lubang ledak dari material penampet cutting hasil pemboran.
L (Tinggi Jenjang) yaitu jarak lubang ke lantai jenjang.
H (Kedalaman Lubang) yaitu penjumlahan dari stemming ditambah panjang isian.
PC (panjang isian) yaitu kedalaman lubang dikurangi panjang isian.
J (Subdrilling) yaitu kelebihan panjang lubang ledak.
Hitungan penentuan luas wilayah drilling:

Ø  colom  = jumlah lubang ledak/ jumlah baris
= 45/6
= 7,5m
Ø  panjang = jumlah baris x panjang spasi
= 6 x 2,5
= 15 m
Ø  lebar    = panjang colom x burden
= 7,5 x 1,5
= 11,25 m
Jadi luas wilayah drilling        = panjang x lebar
                                                =15 x 11,25
                                                = 168,75 m2
4.2. Tahapan Peledakan
Tahapan yang dilaksanakan dalam mempersiapkan suatu peledakan adalah sebagai berikut:
  1. Buat Lubang bor dengan ukurn diameter dan kedalaman sesuai perancanaan
  2. Mempersiapkan detonator dan merakit “primer”
  3. Masukkan bahan peledak / dinamit kedalam lubang bor, kemudian masukkan “primer”
  4. Masukkan material pasir atau tanah sebagai penyumbat lubang dan dimampatkan dengan tongkat dari kayu/tembaga/kuningan.
  5. Rangkai dan hubungkan tiap-tiap lubang tembak sesuai urutan peledakan.
  6. Dilakukannya pengamanan lokasi di kawasan peledakan
  7. Penyalaan
Awal dari suksesnya kerja peledakan tergantung pada pola dan metode peledakan serta prosedur dan tata cara persiapan peledakan, dan apabila persiapan kurang baik dapat terjadi hal – hal:
  • Volume dan ukuran fragmen buatan hasil peledaakan tak sesuai dengan rencana.
  • Satu atau lebih lubang tembak akan “mangkir”
  • Kemungkinan terjadi peledakan premature dan “flying-rock”






BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.Kesimpulan
            Bahan peledakan adalah Zat yang berbentuk padat, cair, gas ataupun campurannya yang apabila terkena suatu aksi, berupa panas, benturan, tekanan, hentakan atau gesekan akan berupa secara fisik maupun kimiawi menjadi zat lain yang lebih stabil. Memberikan suasana kerja atau lingkungan yang aman sehingga dicapai hasil kerja yang menguntungkan dan bebas dari segala bahaya, baik terhadap manusia, mesin alat, material ataupun metode kerja pada saat dilakukannya operasi penambangan. Bilamana peledakan itu dilakukan maka keselamatan dan lingkungan pun perlu di perhatikan sebagai bagian utama dari melakukan suatu peledakan.
            Dari kegiatan praktikum peledakan di PT. PERTAMA MINA SUTRA PERKASA di kabupaten Jember dapat ditarik kesimpulan diantaranya:
Ø  Pola peledakan yang digunakan mengunakan pola melingkar seri / selang seling
Ø  Jumlah lubang bor 45 lubang dengan diameter 33 mm dan bibagi menjadi 6 baris dengan luasan 168,75 m2 dengan tinggi jenjang 4 meter
Ø  Dan waktu drilling rata rata untuk satu lubang 20-30 menit
Ø  Awal dari suksesnya kerja peledakan tergantung pada pola dan metode peledakan serta prosedur dan tata cara persiapan peledakan.
Ø  Kegagalan peledakan dalam peledakan diantaranya frakmen tidak sesuai rencana, flying rock, misfire (gagal ledak).
5.2. Saran
            Untuk praktikum peledakan kami harapkan semoga berjalan lebih baik lagi di tahun tahun selanjutkan serta di lakukan kordinasi lebih baik supaya tidak terjadi kesalah pahaman Antara mahasiswa dengan panitia dan dosen pelaksana praktimum peledakan.
Serta saran untuk perusahaan supaya kerjasama antara PT. PERTAMA MINA SUTRA PERKASA dengan pihak jurusan teknik pertambangan INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA berjalan terus untuk tahun tahun berikutnya utamanaya dalam praktikum peledakan.


PEMANFAATAN BATUBARA

Asal mula batubara
Pembentukan batubara dimulai sejak Batu bara adalah sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan lahan gambut. Penimbunan lanau dan sedimen lainnya, bersama dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebagai pergeseran tektonik) mengubur rawa dan gambut yang seringkali sampai ke kedalaman yang sangat dalam. Dengan penimbunan tersebut, material tumbuhan tersebut terkena suhu dan tekanan yang tinggi. Suhu dan tekanan yang tinggi tersebut menyebabkan tumbuhan tersebut mengalami proses perubahan fisika dan kimiawi dan mengubah tumbuhan tersebut menjadi gambut dan kemudian batu bara.
Carboniferous Period (Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) – dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai ‘maturitas organik’. Proses awalnya gambut berubah menjadi lignite (batu bara muda) atau ‘brown coal (batu bara coklat)’ – Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat sampai kecoklat-coklatan.

Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, batu bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batu bara ‘sub-bitumen’.Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebh hitam dan membentuk ‘bitumen’ atau ‘antrasit’. Dalam kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit.
Jenis-jenis Batu Bara
Tingkat perubahan yang dialami batu bara, dari gambut sampai menjadi antrasit – disebut sebagai pengarangan – memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai ‘tingkat mutu’ batu bara.
1.        Batubara dengan mutu yang rendah, seperti batubara muda dan sub-bitumen yang biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Baru bara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya rendah.
2.        Batubara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Contohnya adalah batubara bitumen dan antrasit. Batubara dengan mutu yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak. Antrasit adalah batubara dengan mutu yang paling baik dan dengan demikian memiliki kandungan karbon dan energi yang lebih tinggi serta tingkat kelembaban yang lebih rendah.
Kegunaan dan manfaat Batu Bara
Batu bara memiliki berbagai penggunaan yang penting di seluruh dunia. Penggunan yang paling penting adalah untuk .
1.        bahan bakar pembangkit  listrik
2.        produksi besi dan baja
3.        bahan bakar pembuatan semen
4.        bahan bakar cair.
Penggunaan batu bara yang penting lainnya mencakup pusat pengolahan alumina, pabrik kertas, dan industri kimia serta farmasi. Beberapa produk kimia dapat diproduksi dari hasil-hasil sampingan batubara. Ter batu bara yang dimurnikan digunakan dalam pembuatan bahan kimia seperti minyak kreosot, naftalen, fenol dan benzene. Gas amoniak yang diambil dari tungku kokas digunakan untuk membuat garam amoniak, asam nitrat dan pupuk tanaman. Ribuan produk yang berbeda memiliki komponen batu bara atau hasil sampingan batu bara:sabun, aspirin, zat pelarut, pewarna, plastik dan fiber, seperti rayon dan nylon.
1.        Batu bara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan produk-produk tertentu:
2.        Karbon teraktivasi – digunakan pada saringan air dan pembersih udara serta mesin pencuci darah.
3.        Serat karbon – bahan pengeras yang sangat kuat namun ringan yang digunakan pada konstruksi, sepeda gunung dan raket tenis.
4.        Metal silikon – digunakan untuk memproduksi silikon dan silan, yang pada gilirannya digunakan untuk membuat pelumas, bahan kedap air, resin, kosmetik, shampo dan pasta gigi.
Briket Batubara
            Briket Batubara adalah bahan bakar padat yang terbuat dari Batubara dengan sedikit campuran seperti tanah liat dan  tapioka. Briket Batubara mampu menggantikan sebagian dari kegunaan Minyak Tanah sepeti untuk : Pengolahan Makanan, Pengeringan, Pembakaran dan Pemanasan. Bahan baku utama Briket Batubara adalah Batubara yang sumbernya berlimpah di Indonesia dan mempunyai cadangan untuk selama lebih kurang 150 tahun. Teknologi pembuatan Briket tidaklah terlalu rumit dan dapat dikembangkan oleh masyarakat maupun pihak swasta dalam waktu singkat.
Sebetulnya di Indonesia telah mengembangkan Briket Batubara sejak tahun 1994 namun tidak dapat berkembang dengan baik mengingat Minyak Tanah masih disubsidi sehingga harganya masih sangat murah, sehingga masyarakat lebih memilih Minyak Tanah untuk bahan bakar sehari-hari. Namun dengan kenaikan harga BBM per 1 Oktober 2005, mau tidak mau masyasrakat harus berpaling pada bahan bakar alternatif yang lebih murah seperti Briket Batubara.
Briket batubara dipilih oleh masyarakat sebagaibahan bakar alternatifkarena
dilihat dari segi keunggulannya. Adapun keunggulan briket batubara adalah:
1.      lebih murah
2.      nilai   kalor   yang   tinggi   dan   kontinyu   sehingga   sangat   baik   untuk pembakaran yang lama
3.      tidak beresiko meledak/terbakar
4.       tidak mengeluarkan suara bising serta tidak berjelaga
5.       sumber batubara melimpah.
Ada 4 dasar pemikiran mengapa briket perlu mendapat perhatian
yang serius dalam pengembangan diversifikasi energi di Indonesia yaitu :
1.      Makin menipisnya cadangan minyak bumi
2.      Potensi dan kualitas batubaranya cukup tersedia dan dapat menghasilkan briket yang mempunyai persyaratan
3.      Tersedianya   teknologi   sederhana   yang   memungkinkan   batubara   dapat dibentuk menjadi briket
4.      Dapat   menggantikan   penggunaan   kayu   bakar   yang   sangat   meningkatkonsumsinya dan berpotensi merusak ekologi hutan.
Adapun manfaat briket batubara adalah :
1.      Pemasok  Bahan  Bakar   Yang  Potensial  dan   Dapat  Dihandalkan   Untuk Rumah Tangga dan Industri Kecil.
2.       Sumberdaya Energi Yang Mampu Menyuplai Dalam Jangka Panjang.
3.      Pengganti BBM/Kayu Bakar Dalam Industri Kecil dan Rumah Tangga.
4.      Merupakan tempat penyerapan tenaga kerja yang cukup berarti baik di pabrik briketnya, distributor, industri tungku, dan mesin briket.
5.      Merupakan bahan bakar yang harganya terjangkau bagi masyarakat pada daerah-daerah terpencil.
6.      Memberikan sumber pendapatan kepada penyuplai bahan baku  briket seperti batubara,  tanah liat, kapur, serbuk biomas.
7.      Sebagai wadah pengalihan teknologi dan keterampilan bagi tenaga kerja Indonesia baik langsung maupun tidak langsung.
8.       Menghasilkan briket batubara yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan UKM dalam kebutuhan energinya yang akan terus meningkat setiap tahunnya
Beberapa parameter dalam pembuatan briket batubara antara lain :
1.      Ukuran butir batubara.
2.      Tekanan mesin pada waktu pembriketan.
3.      Kadar air yang bterkandung dalm batubara.
Briket batubara memiliki keterbatasan yaitu waktu penyalaan awal memakan waktu 5 – 10 menit dan diperlukan sedikit penyiraman minyak tanah sebagai penyalaan  awal, briket batubara hanya efisien jika digunakan untuk jangka waktu diatas 2 jam.
1.        Sifat Briket yang Baik
Sifat briket yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1)      Tidak berasap dan tidak berbau pada saat pembakaran.
2)       Mempunyai   kekuatan   tertentu   sehingga   tidak   mudah   pecah   waktu diangkat dan dipindah-pindah.
3)       Mempunyai suhu pembakaran yang tetap ( C) dalam jangka waktu yang cukup panjang (8-10 jam).
4)      Setelah   pembakaran   masih   mempunyai   kekuatan   tertentu   sehingga mudah untuk dikeluarkan dari dalam tungku masak.
5)      Gas hasil pembakaran tidak mengandung gas karbon monoksida yang tinggi.
2.      Proses Pembuatan Briket Batubara
Terdapat tiga cara pembuatan briket batubara yaitu: Teknologi dengan karbonisasi, Teknologi tanpa karbonisasi dan Teknologi biobatubara  (biocoal).
Batubara halus  - 3 mm dikeringkan sampai kadar air 10 %, ditambahkan biomasa
(berupa bagas, serbuk gergaji) kemudian dicetak pada tekanan pembriketan 2-3
ton/cm2
1. Karbonisasi (super)
Jenis   ini   mengalami   terlebih   dahulu   proses   dikarbonisasi   sebelum menjadi   Briket.   Dengan   proses   karbonisasi   zat-zat   terbang   yang terkandung   dalam   briket   batubara   tersebut   diturunkan   serendah mungkin sehingga produk akhirnya tidak berbau dan berasap, namun biaya produksi menjadi meningkat karena pada batubaratersebut terjadi rendemen   sebesar   50%.   Briket   ini   cocok   untuk   digunakan untuk keperluan  rumah tangga serta lebih aman dalam penggunaannya.
2. Non Karbonisasi (biasa)
Jenis   yang   ini   tidak   mengalamai   dikarbonisasi   sebelum   diproses menjadi briketdan harganya pun lebih murah. Karena zat terbangnya masih terkandung dalam  briket batubara maka pada penggunaannya lebih   baik   menggunakan   tungku   (bukankompor)   sehingga   akan menghasilkan pembakaran yang sempurna dimana seluruhzat terbang yang muncul dari briket akan habis terbakar oleh lidah api dipermukaan tungku. Briket ini umumnya digunakan untuk industri kecil
3.Teknologi biobatubara  (biocoal)
Batubara halus  - 3 mm dikeringkan sampai kadar air 10 %, ditambahkan biomasa (berupa bagas, serbuk gergaji) kemudian dicetak pada tekanan pembriketan 2-3 ton/cm. Bentuk Briket Batubara Terdapat 2 bentuk briket batubara :
1.      Bentuk Telur
2.      Bentuk kubus berlubang 
 Komposisi Briket Batubara
Proses   pembriketan   batubara   dapat   didefinisikan   sebagai   suatu proses   pengolahan   batubara,   dimana   briket   yang   dihasilkan   mempunyai bentuk, ukuran  fisik, sifat kimia tertentu dengan menggunakan teknik yang tepat, komposisi briket batubara diantaranya:
1.        Batubara
Briket batubara dapat dibuat dari bermacam-macam rank batubara, tergantungpada jenis batubara yang ada, misalnya: lignite, sub-bituminous, bituminous, semiantrasit  dan  anthrasite.  Kualitas briket batubara dapat dipengaruhi   oleh   kualitas   batubara   yang   digunakan.   Batubara   yang mengandung zat terbang yang terlalu tinggi cenderung mengeluarkan asap hitam dan berbau tidak sedap. Batubara yang digunakan pada penelitian ini adalah batubara jenis semi antrasit.
2.        Jerami
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang mempunyai potensi   yang   cukup   besar   sebagai   sumber   bahan   bakar.   Ketersediaan limbah ini biasanya padasaat musim kering dimana persediaan hijauan telah berkurang baik kualitas maupunkuantitasnya.


3.        Ampas Tebu
Ampas tebu merupakan Iimbah pabrik gula yang banyak ditemukan di  berbagai  daerah   seperti  Medan,  Jakarta,  dan  kota-kota  lainnya  dan sangat mengganggu apabila tidak dimanfaatkan. Saat ini belum banyak peternak menggunakan ampas tebu tersebut untuk bahan pakan ternak, hal ini mungkin karena ampas tebu memiliki serat kasar dengan kandungan lignin sangat tinggi ( 19.7%) dengan kadar protein kasar rendah (28%). Namun limbah ini sangat potensi sebagai bahan tambahan yang digunakan dalam proses pembuatn briket.
4.        Tetes (Molasses)
Molases  diperoleh dari proses kristalisasi larutan tebu yang tidak dapat menghasilkan gula lagi. Molases merupakan larutan kental berwarna coklat  kehitaman   yang   dapat   digunakan   sebagai   bahan   perekat   untuk batubara dan bahan campurannya.
Pemilihan perekat berdasarkan pada:
1)      perekat harus memiliki daya adhesi yang baik bila dicampur dengan semikokas.
2)      perekat   harus   mudah   didapat   dalam   jumlah   banyak   dan   harganya murah.
3)      perekat tidak boleh beracun dan berbahaya.
III.3.3 Dampak Lingkungan Pembakar Briket
Nilai  strategis  dan   ekonomis  pemanfaatan  batubara   sebagai  bahan bakar  sering terkendala oleh dampak lingkungan yang berasal dari emisi dan sisa pembakaran,yang langsung maupun tidak langsung berpengaruh kepada kesehatan   manusia.Selain   itu,   pembakaran   batubara   dengan   jumlah   yang sangat banyak akan mempengaruhi kondisi lingkungan, antara lain berupa gas rumah kaca seperti CO dan lain-lain.
Secara umum polutan yang timbul akibat pembakaran batubara antara lain   partikel   halus,   belerang,   NOx,   dan  trace   element  (seperti   flourin, selenium, dan arsen) serta bahan-bahan organik yang tidak terbakar secara sempurna. Unsur-unsur ini terbentuk pada saat pembentukan sebagai proses alam. Dengan demikian sederhana untuk mendapatkan kondisi pembakaran yang   bersih,   semua   zat   pengotor   tersebut   harus   ditiadakan   paling   tidak dicegah agar tidak merebak menjadi polutan yang teremisikan. Ada   tiga   faktor   utama   yang   mempengaruhi   lingkungan   akibat   dari pembakaran briket batubara :
1.        Jenis bahan baku (batubara)
Jenis   bahan   baku   dan   bahan   pembantu   yang   digunakan   harus menggunakan bahan yang bersih dari polutan. Semakin baik bahan yang digunakan,  semakin   sedikit   emisi  yang   ditimbulkan.   Emisi  berbahaya, seperti gas SOx dan NOx pada dasarnya ditimbulkan dari batubara yang memiliki kadar pengotor yang tinggi.  Bahan pengikat yang berasal dari lempung yang tidak mengandung zat-zat yang berbahaya.
2.        Tungku
Tungku   yang   digunakan   hendaknya   mampu   memfasilitasi pembakaran yang sempurna, artinya dapat menyeimbangkan aliran udara (oksigen)   dengan   baik.Tungku  dengan   penutup   pengurang   emisi   yang dikembangkan oleh tekMIRA ternyata sangat membantu mengurangi emisi secara signifikan.


3.        Ruangan (dapur) tempat memasak
Ruangan tempat memasak hendaknya memiliki ventilasi yang baik, artinya udara   segar  dapat  bersirkulasi  dengan   cepat.  Kondisi  ini  akan sangat   membantumenghindari   dampak   langsung   dari   polusi   kepada kesehatan  pemasak.Dengan  memperhatikan  ketiga  faktor  diatas,   secara teoritis dapat dihindari berbagai dampak negatif atas penggunaan briket batubara dari pengukuran emisi (SOx, NOx,  dan CO) yang dilakukan tekMIRA, diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan briket batubara secara umum masih aman dengan kadar emisi masih jauh dibawah ambang batas yang diperkenankan oleh kementrian lingkungan hidup.
Pembakaran briket batubara pada menit pertama diawali pembakaran biasa yang memiliki kadar CO yang mencapai 1000 ppm, SOx 250 ppm dan NOx mencapai 100 ppm. Selang 10 menit kemudian terutama jika pembakaran sempurna emisi ini boleh dikatakan sudah tidak terdeteksi. Kondisi yang terbaik jika menggunakan tungku dengan penutup pengurang emisi (PPE) dan dapur mempunyai ventilasi yang baik.
PRINSIP KERJA PEMBUATAN BRIKET
Alat Dan Bahan.
ALAT
1.        Neraca digitaal


Neraca digital digunakan  untuk menimbang berat dari batubara,air,tepung,dan bahan-bahan lainnya agar takarannya pas.
 2. Ayakan


Digunakan untuk memisahkan  untuk memisahkan serbuk kayu yang halus dan agak kasar pada kegiatan pembuatan briket kali ini digunakan serbuk kayu yang kasar. 
3.    Wadaah  pencampur
Awadah pencampur digunakan untuk mencampur bahan-bahan pembuatan briket batubara.

1.     4.  Sendok


Digunakan untuk mengaduk bahan-bahan yang akan dicampur didalam wadah pencampur.
5.   SPRITUS
Digunakan untuk membakar briket dalam uji coba briket.
6.   Alat penghalus

7.  Wadah air
Digunakan untuk menakar seberapa banyak aor yang digunakan untuk pencampuran.
9.        Stopwatch
Digunakan untuk menghitung waktu pada uji coba pembakaran briket.
10.        Alat tulis
Digunakan untuk mencatat hal-hal pada kegiatan praktikum selama berlangsung.
11.  Alat pengepres

Digunakan untuk mencetak briket.
12.     Tungku pembakaran
Digunakan sebagai pengujicobaan  kemampuan briket untuk menjadi bara seberapa lama.
Bahan
1.      Batubara


Merupakan bahan pokok pembuatan briket.
2.     Air
Digunakan untuk mencampur mencampur atau  mengencerkan lem dan tepung. 
3.   Tepung
Digunakan sebagai bahan perekat.
4.       Serbuk gergaji
Digunakan sebagai pencampur batubara agar cepat terbakar.
5.         Lem kayu
Digunakan sebagai perekat pembuatan briket.
Cara Kerja
1.        Siapkan bongkahan  batu bara.
2.        Hancurkan batubara sampai ukuran 10 mesh.
3.        Ayak batubara mengunakan ayakan, ambil batubara yang lolos ayakan 100gram dan 150 gram.
4.         Siapkan tepung terigu 40 gram untuk 2 sample.
5.        Siapkan air bersih 120 gram untuk 2 sample.
6.        Siapkan serbuk kayu kasar sebesar  100 gram untuk 2 sample
7.        Siapkan lem 8 kali.
8.        Campur air dan tepung dengan air.
9.        Apabila sudah tercampur masukan serbuk kayu dan batu bara secara sedikit-sedikit.
10.    Campur semua bahan yang telah dimasukan didalam wadah pencampuran.
11.    Masukan bahan-bahan tersebut kedalam mesin pres.
12.    Lalu keluarkan briket dari dalam mesin pres.
13.    Jemur briket sampai benar-benar kering.
14.     Setelah kering bakar briket dalam tungku.
15.    Hitung  waktu pembakaran kedua sample tersebut mulai dari awal pembakaran sampai habis briketnya.
16.    Bandingkan sample 100gram dengan sample 150 gram.
                                                            HASIL
Briket
Briket adalah bahan bakar padat yang tebuat dari batubara dengan sedikit campuran seperti lem kayu dan tapioka. Briket batubara  mampu menggantikan sebagian dari kegunaan minyak tanah seperti untuk pengolahan makanan , pengeringan, pembakaran dan pemanasan. Bahan baku utama pembuatab briket batu bara adalah batubara yang sumbernys berlimpah di indonesia dan mempunyai cadangan untuk hampir lebih kurang 150 tahun.

Briket Batubara Berat 100 Gram
Dari hasil pembuatan briket 100 gram dengan dicampurkan dengan bahan-bahan lain dan sudah dipres oleh mesin pres kemudian dilakukan penjemuran sampai benar-benar kering  kemudian dilkukan pembakaran untuk menguji seberapa lama kemampuan briket batubara tersebut mampu menjadi bara.
Pada sample pertama ini dengan menggunakan bahan utamanya batu bara dengan berat 100 gram yang direndam di spirtus dengan waktu 2 menit untuk yang ada di tungku dan 1 cuckup dengan membasahi dengan spirtus untuk yang berada diatas tungku kemudian dilakukan pembakaran dari mulai pembakaran 1: 23 dan sampai menjadi bara dan habis 14: 58 sehingga dapat diakumulasikan bahwa mampu menyala sampai 1 jam 35 menit.
Briket Batubara Berat 150 Gram
Dari hasil pembuatan briket 150 gram dengan dicampurkan dengan bahan-bahan lain dan sudah dipres oleh mesin pres kemudian dilakukan penjemuran sampai benar-benar kering  kemudian dilkukan pembakaran untuk menguji seberapa lama kemampuan briket batubara tersebut mampu menjadi bara.
Pada sample pertama ini dengan menggunakan bahan utamanya batu bara dengan berat 150  gram yang direndam di spirtus dengan waktu  3  menit untuk yang ada di tungku dan 1 cuckup dengan membasahi dengan spirtus untuk yang berada diatas tungku kemudian dilakukan pembakaran dari mulai pembakaran 15: 00 dan sampai menjadi bara dan habis 16 : 00 sehingga dapat diakumulasikan bahwa mampu menyala sampai  1  jam.
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil kegiatan pembuatan briket adalah sebagai berikut :
1.      Pembentukan batubara dimulai sejak Batu bara adalah sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan lahan gambut. Penimbunan lanau dan sedimen lainnya, bersama dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebagai pergeseran tektonik) mengubur rawa dan gambut yang seringkali sampai ke kedalaman yang sangat dalam. Dengan penimbunan tersebut, material tumbuhan tersebut terkena suhu dan tekanan yang tinggi. Suhu dan tekanan yang tinggi tersebut menyebabkan tumbuhan tersebut mengalami proses perubahan fisika dan kimiawi dan mengubah tumbuhan tersebut menjadi gambut dan kemudian batu bara.
2.      Briket adalah bahan bakar padat yang tebuat dari batubara dengan sedikit campuran seperti lem kayu dan tapioka. Briket batubara  mampu menggantikan sebagian dari kegunaan minyak tanah seperti untuk pengolahan makanan , pengeringan, pembakaran dan pemanasan. Bahan baku utama pembuatab briket batu bara adalah batubara yang sumbernys berlimpah di indonesia dan mempunyai cadangan untuk hampir lebih kurang 150 tahun.
3.      Briket batubara yang mengunakan bahan utama bataubara 150 gram lebih lama menjadi baraapi dibandingkan dengan yang 100 gram jadi semakin banyak batubara yang digunakan maka semakin lama pula pembaraan api yang dihasilkan.

laporan mekanika batuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia pertambangan sekarang mempunyai peranan penting dalam perkembangan negara di dunia, k...